Sri Suranti PGSD 12
Rabu, 20 Maret 2013
refleksi "Mathematics and Language 5"
Pada setiap pembelajaran baik itu pembelajaran
matematika ataupun pembelajaran yang lain sangat dibutuhkan komunikasi dan
kepercayaan yang berkelanjutan, luas, dan disesuaikan dengan lingkungan
sekitar. Dengan komunikasi yang baik dan sesuai akan dapat memberikan
kenyamanan pada kedua pihak dalam hal ini siswa dan guru. Menurut saya, salah satu
bentuk komunikasi dalam pembelajaran yaitu adanya motivasi dan apersepsi. Melalui
kegiatan apersepsi tersebut siswa memberikan gambaran umum apa yang akan
dipelajari pada hari itu, bagaimana manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, dan
langkah-langkah siswa dalam melakukan proses belajar. Jadi tidak sepenuhnya
waktu di bebaskan kepadaa anak, guru juga perlu adanya pengenalan, tanggapan,
pengarahan dan pemberian konsep-konsep dalam pembelajaran matematika. Saya tidak
paham dengan pembahasan tentang matematika murni dan pelajaran matematika,
sehingga saya mengambil sikap tidak berpendapat karena kawatir salah dalam
pemahaman. Apabila saya ada salah dalam memahami dan berkomentar, saya mohon
maaf. Terima kasih.
refleksi "Mathematics and Language 2"
Informasi yang saya dapatkan dari karya berjudul Mathematics and Language 2 yaitu tentang permasalahan bagaimana cara yang sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Dsini terdapat dua pendapat, pendapat pertama menyatakan bahwa guru yang baik harus memiliki kecerdasan lebih dalam menguasai matematika dan dalam lingkungan sekolah siswa harus pernah dibimbing oleh guru tersebut. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan bahwa pemasalahan matematika berasal dari orang dewasa bukan dari anak (siswa), siswa memiliki kebebasan dalam pengalamannya belajar matematika dan guru hendaknya sebagai pembimbing, pendamping, teman diskusi, dan fasilitator siswa dalam melakukan petualanagan pada pelajaran matematika. Kedua hal tersebut, menurut saya harus saling melengkapi disamping siswa membutuhkan guru yang benar-benar memiliki keterampilan dalam matematika, siswa juga membutuhkan kebebasan dalam mempelajari matematika. Guru yang cerdas tentu akan memperhatikan dan “mengamalkan” hakikat matematika sehingga kemungkinan seorang guru memaksakan matematika kepada siswa akan berkurang dan sesuai dengan sopan santun dalam matematika. Dengan demikian bukan guru yang menuntun siswa mengatakan bahwa matematika itu indah, tetapi siswa yang memiliki dorongan hati untuk menyatakan matematika indah untuk dipelajari.
Rabu, 27 Februari 2013
Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?"
Setelah membaca karya ini saya
semakin yakin bahwa keberhasilan pembelajaran matematika sangat dipengaruhi
adanya intuisi dari individu siswa dan guru yang saling bersinergi. Intuisi tersebut
akan muncul jika memiliki pengalaman-pengalaman yang dapat diaplikasikan dalam
pembelajaran dan mendukung teori-teori yang ada. Akan tetapi saya masih bingung
“ apakah yang dimaksud ruang dan waktu? Apa yang dimaksud dengan Sintetika Priori?”. Saya setuju dengan
uraian di atas, akan tetapi saya tidak memiliki alasan kuat untuk hal tersebut.
Mohon maaf dan terima kasih
Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition"
Saya setuju dengan pernyataan dan teori yang dikemukakan di atas, bahwa intuisi matematika sangat penting dan dibutuhkan dalam pembelajaran matematematika. Hal tersebbbut karena dengan adanya intuisi dan terbiasa dalam memunculkan intuisi, peserta akan mampu lebih mudah dalam mengali ide/gagasan cemerlang dari dalam diri pribadi siswa. Dalam hal ini perlu adanya fleksibilitas intelektual dan keberadaan budaya untuk mengembangkan strategi dan media pembelajaran. Semua langkah dan kebijakan yang ditempuh tidak akan berjalan dengan maksimal jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak, seperti lingkungan, masyarakat, guru, dan sarana prasarana. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam menulis.
Selasa, 26 Februari 2013
REfleksi "Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology"
Konsep sekolah berbasis SBI telah diterapkan di beberapa sekolah perkotaan Indonesia dan telah berlangsung beberapa tahun. Akan tetapi suatu kebijakan tak kan lepas dari pro-kontra dari masyarakat begitu juga dengan SBI tersebut. Ada yang memandang SBI sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan kompetisi sekolah dan siswa, juga untuk mempersiapkan agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. Di sisi lain banyak pula yang menilai SBI kurang efektif karena biaya mahal sehingga tidak dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menimbulkan kesenjangan sosial. Pada akhirnya SBI saat ini telah dihapuskan. Pada karya diatas dapat diambil kesimpulan bahwa SBI sesungguhnya baik apabila mampu mensinergikan unsur-unsur pokok SBI, manfaatnya akan dirasakan dalam jangka waktu lama setelah Indonesia mungkin berganti generasi. Sebuah kebaikan tentu ada tantangannya dan SBI telah menghadapinya yaitu tantangan budaya, pruralisme, sudut pandang masyarakat dan ego. Menurut saya SBI atau bukan itu sama saja karena jika guru benar-benar ikhlas dan berniat mengabdi untuk Indonesia dengan menerapkan metode kreatif dan konsep yang baik pasti akan mampu “melahirkan” siswa yang kualitasnya tak kalah dengan negara yang memiliki kualitas pendidikan bermutu. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan informasi dan pemahaman saya tentang SBI.
refleksi "Pembelajaran Matematika Seperti Apa yang Kita Harapkan di SD?"
Selama ini matematika dianggap
pelajaran yang sulit oleh para siswa karena selalu melibatkan angka dan rumus
yang panjang. Akan tetapi berdasarkan pendapat ahli, matematika merupakan
kegiatan manusia yang dekat dengan kehidupan setiap insan dan selalu digunakan
dalam kehidupan. Banyak pertanyaan yang diucapkan oleh guru, orang tua, tokoh
pendidikan, mahasiswa, dan masyarakat tentang aktivitas di kelas, dari semua pertanyaan
yang diajukan sebagian besar menanyakan ”bagaimana cara yang paling tepat agar
siswa merasa senang?mudah mengerti?matematika”. Dalam karya diatas telah kita
temukan jawabannya yaitu tidak ada cara yang paling tepat untuk membelajarkan
suatu mata pelajaran kepada siswa, terutama mata pelajaran matematika. Kita
hanya mampu berusaha memberikan yang terbaik dan juga tidak berhenti untuk
belajar, selalu peka dengan keadaan sekitar, dan mengukuhkan niat. Salah satu
proses menjadi yang terbaik yaitu dengan melakukan persiapan, pembukaan, proses
pembelajaran, dan penutup secara sistematis yang berpusat pada aktivitas anak.
refleksi "Some Problems in the Effort of Promoting Innovations of Teaching Learning Practice: Reflection of Peer Teaching activities of Teachers’ Certification"
Sejak zaman dahulu Indonesia
telah mengalami permasalahan pendidikan yang kompleks, mulai dari sistem
pendidikan nasional, fasilitas, pendidik, peserta didik, sistematika
pembelajaran, dan rendahmya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Permasalahan yang paling mendasar yaitu kualitas dari setiap aspek tersebut.
Pihak-pihak yang mengurusi pendidikan nasional tentu sudah menempuh usaha untuk
terus memperbaiki pendidikan Indonesia. Pada akhir-akhir ini, diserukan ada
permasalahan pokok yang harus dipecahkan yaitu mengenai metode dalam melakukan
pembelajaran di kelas. Selama ini guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan
rencana pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, melibatkan siswa secara Full dalam kegiatan pembelajaran,
mengembangkan LKS, memilih media dan sumber, serta kesulitan dalam
memfasilitasi kebutuhan siswa yang beragam.
Secara sederhana, selama ini guru cenderung mendominasi aktivitas kelas,
kurang menguasai IPTEK dan RPP yang dikembangkan masih sangat sederhana.
Permasalahan tersebut yang menjadi pekerjaan rumah para calon pendidik dimasa
mendatang agar membuka mata, telinga, hati dan otak dalam mengapdi sebagai
pendidik anak bangsa. Guru harus memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk
mendukung profesinya. Dengan demikian nasib pendidikan Indonesai dapat lebih
baik.
Langganan:
Postingan (Atom)